Jumat, 04 September 2009

Semua ini Sudah Berakhir

hari-harinya seperti hari-hari cinta yang tak terbalas
karna besarnya rasa cemas dan sakit hati ini yang begitu lama
perasaan ini telah sampai juga ke langit..
di hadapan Tuhan aku membicarakanya
Seperti yang kutakutkan,
Hari-hariku berlalu lamban dan berakhir tanpa harapan
di keheningan malam yang merentang panjang
kini.. ia melayang, menghilang tak berbekas
ia lenyap bagai penglihatan di malam hari
hingga kepala mengenai awan
seperti bayang-bayang di bumi..
seperti benang laba-laba..
telah di lihat mataku, di dengar dan di pahami hatiku
mangapa kini kau sebunyikan wajah dan suaramu
dan menganggap aku tak lagi sebagi cintamu,
mengapa engkau memalingkan hati
dan bibirmu mengeluarkan perkataan “semua ini sudah berakhir”
seperti pohon….,
sebuah harapan ku di cabutnya
dan kenang-kenangan tidak lagi mengenalku
semua itu membongkar, menghukumku ku
di setiap tempat hingga disini kuterdiam
Mengapa kau menghilang dan lenyap?
mengapa pada perasaan ini
kau jadikan aku yang mengambang
hingga menjadi beban seperti ini?
kau pergi dan takkan pernah kembli lagi untukku
Mengapa engkau tak mengampuni apa yang telah ku langgar
dan tidak menghapuskan kesalahanku? Mengapa..
Sekarang aku terbaring dalam debu
Kini bagai mana?, Kini mesti harus bagaimana?
sampai dini hari, aku masih juga di cekam gelisah
sekiranya kamu pada tempatku
kamu kan merasa kan
mataku ingin melihatmu
mataku ingin memandangmu dengan satu impian
semua ini memang susah ntuk di percaya.. ntuk diterima”
tapi.. aku harus bersabar, aku harus bertahan
menjadi cinta yang bijak dan kuat..
cinta ini untukmu, cinta ini bukan untuk siapa-siapa lagi
hanya bersamamu aku mempunyai sebentuk perasaan
aku hanya mencintaimu dan bukan orang lain
dan aku tak mau hari-hariku begitu cepat dari seorang pelari
hanya kau yang pertama dan yang ter akhir..
kini kegelapan semata-mata tersedia untukku
dimana cahaya terang serupa dengan nya
Bagiku ini hanya perjalanan-perjalanan sepanjang lingkaran langit
Karna ini semua harus bergelumul di bumi
biarlah aku menanti terang yang takkunjung datang
dan rekah fajar yang takkunjung tiba, walau kekuatanku tak seperti batu,
dan walau tubuhku bukan dari tembaga
mungkin saat-saat ini burung-burung, sinar bulan
dan gema awan di udara yang bisa membuatku sedikit tersenyum
ntuk suatu kekuatan.. ketegaran
menudungiku sembunyikan sebuah arti kesusahan
biarlah aku, karna hari-hariku takmungkin untuk selama-lamanya
ingat”.. hidupku hanya hembusan nafas
tolong tanyakan.. apa kah kau masih mau mengikuti arah ini
ya arah.. yang di lalui cinta dan sayang tulus hati?..
apakah semua ini kurang, ntuk mempertahankanmu?
apa selama ini dan saat itu kita bersama
hanya untuk mengisi waktu luang saja?
Semoga itu tidak
mungkin dengan hembusaan nafas yang tersisa




Sang Putra

Penilaianku Yang Salah

Dalam gelap..
aku dan sepasang waktu, aku bersalah... aku gelisah tak bisa tidur
berita itu sangat dalam bagi orang sepertiku, seberapa jauh jarak di antara kita,begitu jauh terlempar sampai kutak tau mesti bagaimana.. dan ntah kemana..
mengapa kau berubah?.. selama ini kumasih setia.. kukabulkan ke inginanmu.. yang kau ingin ke bebasanmu kuhanya bisa menatapmu, tapi tak bisa masuk ke duniamummh... sudah cukup lelah.. kulelah sekaliaku tidak tau pemikiranku benar atau salah
kau yang tidak percaya.. atau aku yang tidak mempercayaimu
aku bisa menahan.. tapi tak bisa menahan hatimu.. yang akan pergi dan menghilang
apa kau tak ingin mengulangnya kembali seperti dulu saat pertama aku mengenalmu beri aku waktu.. untuk sedikit berpikir
ntuk hal-hal yang sudah berubah kutau.. dan kutau...
kau menghilang seperti kabut yang berlalu.. tapi.. apa sepatah kata untukku pun juga harus menghilang untukku.. yah untukku.. tolong jangan lenyapkan itu semua karna hanya itu impianku yang kupunya
Dulu kutak tau siapa kamu… indah rencanamu dalam hidupku
walau kutak mengerti semua jalanmu.. Cintaku dan Cintamu sangat hebat karna satu impianBerat yang kurasa sekarang, di dalam hati kutak berdaya menghadap semua iniDan dulupun bagiku cinta adalah sesuatu yang sungguh emosional
tampa sadar kini cinta bagiku adalah suatu tanggung jawab
Tapi kumengerti sekarang
Kau tak pernah mencintaiku dengan apa adanya.. yang ada di dalam diriku
Kini kumelihat dan merasa indah rencanamu.. cintamu sayang
Sejauh timur dari barat
Terimakasi.. terimakasih sayang
Jauh kedalam hari-hari hampa yang tidak kuingat lagi
teruskanlah ke bodohanmu
karna... kau tanggung jawabku.. kau cintaku..
Sayang...


Sang poutra

Ketika Cinta Menyapa Luka



Senja pantai menerpa perbukitan pada dinding ranting-ranting patah, dedaunan gugur pada musim semi. Gubahan syair berkeliaran digurun padang berbatu. Bulan menyapa malam namun tak pernah bergandengan dengan fajar. Kulihat musim sedang meliwati transisi, entah akan berganti apa, karena daun berguguran saat musim semi, mungkinkah musim dingin? Entah tapi aku merasakannya.
Burung kutub terbang menuju daerah imigran, menghindar dari musim, transmigrasi karena tak mampu beradaptasi. Aku memperhatikannya, tapi aku belum mengerti, karena alam belum mengijinkan. Kupasang mata pada jarak jiwa, mencoba mendekati bintang redup. Namun aku menyadari bahwa aku di Bumi, hanya bisa menatapnya pada malam hari, hanya bisa menyanjungnya pada saat suasana hati romantis. Tiada retak yang tak berserakkan, tiada resah yang tak cemas sehingga akupun berpikir bahwa tidak akan ada asap jika tidak ada api.
Ketika kebersamaan yang kita rajut membuahkan indah pada lembar demi lembar album kecil kita, mungkin engkau menyebutnya diary. Hari-hari terlewatkan dengan berbagai cerita. Bayang-bayang keceriaan masih tertanam hingga kini.
Lewat goresan ini, lantunan hati kecilku merangkak mencari solusi dalam ilusi. Aku hanya suara dalam alam maya. Tak bersarang, tak berjarak, tapi merasa, karena getaran yang meraba jiwa. Merasa atau merisau, karena kita mungkin sama dan pernah melaluinya kemarin. Hati kita mungkin rela ketika bayang mengungkit, mungkin pula tidak karena romantika yang memilukan, tapi aku lelah memendam kenangan ini dalam album miniku, karenanya foto-foto kenangan kita memudar, kuawali sekat ini dalam pembuangannya mulai pada awal engkau katakan bahwa saat itu kita tenggelam dalam canda tawa. Kemudian engkaupun tahu, bahwa ada hati yang diam-diam kutanam menanti subur, karena ada cinta yang sedang bersemi.
Beberapa kali engkau menggodaku karena ada indah dalam tatapanmu, begitu pun aku, sekian kali aku menggodamu, karena ada hati yang sedang merontak, jimatku mujarab saat engkau menyambutnya dengan senyum. Berkali kali dan telah sekian kali dalam perjalanan kita. Canda tawa mewarnainya saat kita kenang kembali dibawah temaram bulan separuh. Cinta dan gurauan itu bersama-sama kita jalin hingga suatu hari keadaan mengambilnya dengan paksa dari tanganku. Warna dalam cerita kita adalah engkau dan aku yang membuatnya, yang merajutnya, yang merancangnya dan yang merencanakannya.
Sesaat aku khilaf, sesaat itu pula reruntuhan bergemuruh dibalik bebukitan indah diatas villa angsa tempat kita merajut kasih. Berkali-kali kini aku memohon maaf karena sesal, engkau membalasnya dengan mengiris kanvas yang telah berwarnah indah. Pada hal dulu, engkau adalah pengisi ruang jiwaku, padahal dulu, aku adalah pelebur ketidaktahuanmu, hingga kita saling mengisi satu sama lain. Kuncup bunga ditaman tidak akan mekar bila tidak ada serangga yang mendekat untuk membisikannya.
Cinta, sesal aku karena khilaf, tapi tiada daya karena aku hanyalah manusia biasa yang tak luput darinya, maaf yang kusampaikan tak kau gubris karena dendam membentengi. Yang kini kusesali, mengapa tidak sejak dulu dendam itu tidak kau ungkapkan karena mungkin benci yang menjadi benihnya dapat ku sayat hingga tak berbentuk. Yang mungkin dapat engkau sadari, bahwa sesungguhnya disini masih ada ruang hati yang tersimpan rapi namun tercampakkan dari sisinya. Tak berserakkan namun retak berkaca.
Cinta, kasih yang kau jalin dengan dia kini, bukan untuk menebus khilaf ku khan???? Benci yang engkau tampakkan pada pesona wajah ceriamu, bukan untuk membutakan mata hatiku khan???? Adakah ini adalah ujian untukku karena engkau yang ingin tahu aku lebih jauh??? Ach, cinta, jauh benar kini engkau langkahkan kakimu hingga tak terkejar olehku, sesaat kita bertemu, sekian lama balasan tatapanmu menyudutkanku dari tanya dalam diam. Aku bingung, aku terkesimak, ataukah ini memang akhir dari mewarnai cerita kita? Padahal putih diatas kanvas itu masih panjang dan belum ternoda oleh tinta-tinta pena yang menoreh.
Beberapa kali bibirku berucap dalam gagap karena ada kasih sayang yang terkunci dalam diri ini, mungkin karena malu sebab masih ada cinta yang berharap indah diantara luka dan benci. Jika engkau masih memiliki rasa yang peka tentang jiwa seorang insan yang sedang merana, mungkin engkau akan paham mengapa luka mesti tersayat, mengapa benci mesti memilukan. Tak ada tanya, sebab tak akan terjawab.
Cinta, engkau pergi bukannya untuk menghindar, aku tersenyum ketika engkau sapa dengan kepenatan bukan kah akan terluka?. Betapa pedih hati yang sedang retak, mungkin akan sangat pedih ketika remuk kini menghampiri. Apa yang engkau inginkan? bukankah telah puas engkau membalas ini semua dengan cara mu menjauh untuk merangkul dekat. Bukan kehangatan yang akhirnya kudapat namun dingin yang menyesakkan. Apa yang ada dalam pikiranmu Cinta? bukankah telah kukatakan, bahwa tiada pernah henti ku kenangi cerita kita. Air mata mungkin kini pedih, hingga kering tak kurasa, ataukah mengering karena ku tak kuasa membendung. Walau mata tak berkaca, namun hatiku tergenang.
Cinta, aku masih mengaharap, akan jiwa yang saling mengisi kemudian bersama-sama mewarnai kanvas baru, tapi mencontohi kanvas lama agar tidak berhenti ketika putih masih terbentang luas. Masih adakah kesempatan itu ketika keinginan ini masih berjuang? sebab hatiku masih tertinggal dalam jiwamu. Kini aku merebah diantara beling-beling retak. Mungkin tiada guna, namun untuk engka0u ketahui bahwa duka masih berkabung.


Cinta, jika terik tak bisa engkau hadirkan dalam kelabu ini, mungkin bintang setitik bisa engkau sisipkan diantara kelam semusim, namun tiada pula gunanya jika kau gantung jauh untuk kugapai. Ataukah mungkin aku harus menunggu senja saat dilewati oleh burung kutub yang kembali karena musim telah berubah? Jangan engkau jawab karena aku tak menanyakkannya, hingga esok, fajar akan menyapamu, katakan padanya walau itu perih, tapi bukan disaat bulan separuh. Pastikan aku masih menunggumu, Cinta !!!!!

Senyum Dalam Pekat

Sejenak ku terhenyak dari lamunanku, menukik bayang hingga di alam suram. Padamu kisah kulukis cerita, padamu indah kusayat bahagia. Cerita sedih ku .ini berawal dari sebuah curahan hati yang kugantung pada dinding langit saat aku rebahkan diri menanti bayang dalam alam misteri mimpi. Terbangun kemudian dari tidurku ketika ingatanku menyapa yang tak kuinginkan. Ada kisah yang terkenang, hingga aku harus terdepak dari barisanku menjulang dan menggapai kisah yang kuimpikan. Namun biar dan biarlah, semua itu hanyalah ampas dari deritaku selama ini. Terkadang aku takluk dan tersadarkan bahwa masih ada derita yang lebih pilu menantimu dihari depan, pahami dan hiasi kegagalan dan penderitaan hari ini untuk kau bingkai hari esok.
Ah…, hidup, aku hanya biasmu, mungkin juga hanya bayangmu, kemana kaki kan ku langkahi ketika didepanku nampak jurang yang curam. Apa yang akan aku pilih antara luka tersayat atau pilu yang tiada henti. Jiwaku berdusta tentang kasih sesaat, hati menapik kalau ada rasa yang ingin merasa.
Kini kasih sayangku harus terhempas didermaga cerita. Kutatap dan kulambai engkau yang pergi. Kuingat satu hal ketika engkau beranjak dari tempat kita berdiri dan menggapai tangga kapal yang akan membawamu ketempat yang hanya kulihat dalam peta, bahwa engkau pergi untuk kembali, semoga dan semoga akan seperti yang terucapkan oleh lidahmu. Kuhanya bisa menjawab lewat hati yang kemudian mengacaki mataku.
Basah aku pada dinding-dinding sepi, linangan hati yang menepi akibat ada onak karena rindu, membesukku dipembaringan ini.
Kasih, bila bimbang ini kau tepis dengan khabarmu, mungkin aku tak akan sepedih ini. Kian saat, kian waktu, kutatap nomor yang mengisi kertas tergantung ditembok. Kuhitung-hitung sudah berminggu-minggu bisikmu tak terdengar, candamu tak menyapa, mungkinkah rindukku tak terjawab? Berbagai tanda tanya kini, melingkari kepenatanku. Adakah benar kata orang bahwa jarakmu denganku tak bisa menjamin dekatnya hati kita seperti dulu lagi? Aku cemas, aku resah, aku gelisah.
Kasih, tatap diriku dalam ingatanmu, gerakkan tanganmu untuk memelukku, karena aku sepi dari dirimu. Jika memang sekarang kita ditakdirkan untuk jauh kemudian bersama menjalin kasih yang tertunda ini suatu saat, mungkin piluku hari ini, aku relakan hingga engkau hadir kembali. nAmun bila memang tidak, biarkan aku mendengar kisahmu yang mulai menepis cintaku. Adakah bunga yang kemarin aku titip pada dirimu, kini layu? Bila memang telah terkubur, tiupkan hawa tanah untuk aku pahami, hingga aku mampu terjaga dari rindu ini.


Kupendam kasih demi cinta yang subur, namun kini kurasa ada hati yang terpendam untuk menanti cinta yang hilang. Ya, Tuhanku bila ada hamba-Mu yang bisa ku bagikan parahara hati ini, maka tunjukkanlah, karena aku yang tak mampu menahan parahara ini seorang diri, Ya Tuhanku.

Bintang Dakam Temaram

Bahagia sesaat lebih indah pilu seabad. Suka atau tidak, itulah kegilaanku meniti rantai ditengah lebatnya hujan tak bermendung, kelam memang, namun gerimis tak menyapa, kemudian isi alam kaget ketika butir cairan melebat dimana-mana. Entah gerangan apa yang mengijinkannya hingga alampun membisu tak tahu kenapa? Air mata ikut membias menghiasi jagat raya, adakah hati yang berperasaan membiarkan cerah tertoreh kelam dan kelabu yang datang tiba-tiba? Alam berteriak pilu, jagat raya menangis mengira kiamat datang lebih dini. Kutersungkur tak tahu akan hal yang terjadi. Ataukah aku hanyalah obyek permainan alam, namun alam pun bingung untuk memilah. Mengapa ketegaan ini menyapaku hingga mimpi pun keheranan. Padahal esok ada harapan yang kugantung pada pundak-pundak bumi pertiwi.
Kerabatku, ada noda yang tertoreh diantara bias kebersamaan kita. Aku sangat terpukul ketika keterkoyakkan ini menimpa persaudaraan yang kita jalin. Ada ketidak relaan ketika suara suram terdengar hingga dipenghujung kota. Entah atas dasar apa hati kita berbicara lain, adakah hasrat yang tertuang dalam niat kebersamaan, ataukah kita disatukan dalam kebersamaan untuk saling mengkhianati. Maafkan aku sobat, cerita cinta yang pernah kuliwati bersama denganya terjalin ketika engkau belum mengenalnya. Namun semua itu terlukis dalam kubangan buaya. Entah siapa yang salah sobat, dia kah yang aku cinta ataukah engkau yang aku sayangi, mungkin pula karena aku yang belum memamahmi perasaan kalian yang ingin menyatu, namun mengapa harus diantara kita sobat?

Mungkin engkau pernah mendengar cerita cinta kami sobat? Begitu indah, begitu romantis, cinta dan kasih sayang tumbuh subur diantara jiwa yang saling menyanjung. Tak habis pikir kemudian yang menyelimuti diriku, sebab ada hati yang sedang memaksa untuk menerobos jeruji-jeruji kisah yang kemudian terkenang menjadi luka. Namun mengapa harus diatara kita ? mimpikah ini? Atau kah ini cobaan hidup.

Kasih, ketika kilatan itu menyambar telingaku, aku tersungkur lesu dibawa kaki sejarah. Sia-sia pena yang kupilih untuk menulis cerita kita, yang akhirnya kau sirami dengan warna hitam. Tidak ada lagi putih yang nampak diantara buku-buku cerita kita, sungguh tega engkau permainkan hati ini. Mengapa harus sobatku yang kau jadikan angkara hidupku. Mengapa sobatku yang kau usung untuk kau sayangi, sementara masih ada cinta pada hati ini. Aku muak, aku resah, aku benci dengan segala yang sedang terungkap. Wahai diri yang malang, mengapa cobaan ini ditakdirkan untuk dermaga kasihku. Mengapa tidak berlabuh pada dermaga kisah dilain hati. Aku mengerti bahwa cinta tak harus saling memiliki, namun aku tidak paham mengapa persahabatan yang jadi target untuk kau madu.

Kasih,….sungguh engkau luar biasa, menyakiti diantara pedih, menyiram luka dengan garam yang kau tanak. Kemudian menebarnya untuk kesenanganmu. Sadarlah, kasih, bahwa kemenanganmu saat ini adalah duka yang akan kau semai diujung perjalananmu. Aku tertunduk luka diantara tarian-tarian kebahagiaan, tidak lain dan tidak bukan, pesta itu kau buat untuk membunuh nuraniku yang gersang akan kasih sayang, mengapa tidak kau bunuh sekalian jiwa yang sedang berontak ini?

Sobat, sekali lagi entah siapa yang sebanarnya yang salah. Mungkin aku yang telah terlalu berambisi membangun pondasi yang lebih tinggi, hingga tak kusadari bahwa ada runtuh yang sedang menungguku. Kini kusadar bahwa semua itu telah terjadi dan kini aku remuk oleh kalian. Pedih, menyiksa hingga ke saraf cinta.

Tidak ada hal yang bisa kupaksakan berlabuh, namun yang kusesali mengapa harus ada dua dermaga untuk satu kapal yang akan bersandar. Terima kasih sobat, engkau telah membiarkanku menyadari kemunafikan ini. Terima kasih pula kasih, karena engkau telah menanamkan benih kebencian yang mendalam. Aku hanya bisa menyumbang kisah dihari pertunangan kalian nanti. Semoga tidak ada lagi generasi penghancur harapan sejati yang akan hadir dimuka bumi ini, tidak pula pada bunda pertiwi.
Selamat mengarungi mimpi-mimpi indah diatas tangisan berontak jiwa pengembara cinta dan pejuang kepedihan kasih. Terima kasih untuk terkahir kalinya, karena dari kalianlah aku terbiasa muntah.

Sang Pencinta Sejati

Cinta……
Sang pujangga bersabda “Betapa bahagia seorang yang tengah hidup dalam dunia cinta, dicintai dan mencintai,menikmati dan mengerti akan cinta.
Betapa hampa hidup ini tanpa cinta, cinta yang membuat kita bahagia,membuat kita terbang dalam dunia hayal yang indah, tapi cintalah yang membuat kita sakit dan menangis”
Ya…sungguh sebuah anugerah…
Tapi, akankah kita selalu memiliki pipi yang merah ditengah kata cinta itu??kita tidak tau apa yang akan di perbuat cinta suatu hari nanti dan memang aku sadari akhir dari segala – galanya sangatlah sakit.
Tapi itu semua tergantung……!
Tergantung bagai mana cara kita mengartikan apa itu cinta:
Bagai mana kita menjadi kita dalam cinta:
Bagai mana kita hidup dalam cinta:
Dan bagai mana cara kita mencintai cinta dengan jadi sang pencinta sejati.
Semua itu masih menjadi teka – teki kehidupan
Cinta….keprcayaan….percaya……bahagia atau sebaliknya …….
Sungguh sangat erat hubungan keempat kata itu,
Cinta memberi kepercayaan kepada sang pecinta,yang kadang kepercayaan itu sulit untuk kita percayai,karna banyaknya cobaan ibaratnya seperti perahu kecil yang berlayar berlayar diterpa ombak,suatu saat sang perahu yang kecil harus melawan ombak yang begitu besar, yang menjadi pertanyaan apakah perahu itu mampu unutk terus maju dan tidak akan berbalik arah,dan pada akhirnya berlabu disebuah dermaga………..!!!!

Sekarang tentang pecinta dalam cinta………
Dulu..berawal dari ikatan antara teman dengan teman, tapi tidak bisa disebut sebagai ikatan antara sahabat dengan sahabat.
Hari demi hari kita lewati dengan canda dan tawa,suka dan duka,bermain dan berkumpul bersama …..sungguh indah…….
Sampai akhirnya kutemui sedikit clah yang memancarkan seberkas cahaya lembut dari dirinya,yang membuat diri ini menjadi berbeda terhadapnya, semakin lama kudekat dengannya, semakin terang cahaya yang keluar dari isaratnya,dan aku semakin merasa tak mengerti dengan aku??Aneh!!rasa apa ini ??? kagumkah??? Diri ini dipenuhi dengan pertanyaan – pertanyaan yang konyol….tak …jelas….walaupun aku bersikap biasa dihapannya. Ya..seperti layaknya dengan teman yang lain ….
Aku mulai mengkaji celah – celah sinar yang membuatku silau karena sosoknya.Ya…..ku temukan sebuah kata yang terpancar dari kharismanya,baik dari bahasa tubuh,bahas bibirnya, tatapan matanya, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti walau masih buram…….
Hari demi hari yang ku lewati bersamanya telah menyimpan banyak cerita indah, hingga tibalah waktu yang menjawabnya, ternyata,dia telah merasakan sesuatu, suatu rasa yang seperti apa yang ku rasakan, pertanyaan – pertanyaan itu terjawab juga.
Tapi, apakah ini betul – betul cinta ?? cinta kah ini ??
Hmm…walaupun masih ragu apa itu betul – betul cinta atau bukan,ku tetap menjalaninya, sampai waktu membawaku kejawaban dari semua jawabanku.
Seiring waku yang bergilir, ku mulai menemukan titik – titik arti cinta dari sikapnya,dia selalu memberikan kepercayaan kepadaku, yang membuatku belajar untuk percaya dan bisa belajar menemukan arti cinta darinya ya… cinta ……ini cinta….
Sekarang ku dapat membuktikan sabda dari sang pecinta sejati tadi,kubahagia dalam cinta …
Tapi apa mungkin bahagia ini berakhir dengan bahagia???
Pertanyaan keraguan masih menggantung….
…Bulan berganti tahun….mmm…..sudah bisa dikatan lama
aku menerangi hariku dengan cintanya,kepercayaannya,dukanya,bahagianya,
hingga tiba waktunya untuk dia pergi…..dia pergi…..
betapa ku sulit melepaskan sosok yang tela menjadi penghuni hati,yang telah lama menerangi aliran darah ini, tak bisa berbuat apa – apa lagi,lepas……
esok ku tak akan melihat lagi sinar itu lagi, kegelapan akan datang…..

Sekarang tentang kesetiaan…..
Akankah sinar itu selalu menyinari gelapku seperti dulu???

Masih menggantung juga….
Diriku yang sudah biasa dengan kebiasaanku dan kebiasaannya yang satu,akankah bisa bertahan ?? akankah bisa setia???
Apakah aku harus belajar setia pada satu hati???
Kepercayaan dan waktu yang akan menjawab pertanyaan – pertanyaan itu nanti…..
Terimakasih Cinta………..

Tangisku Dalam Tangismu

Awalnya ada tanya, kemudian tak terjawab, entah menjadi kepenasaran atau mungkin akan berubah muak. Kisah terlukis akibat sejarah terjadi, romantika pun tak luput dari pena kenangan yang tergores diatas kanvas putih tak berwujud. Ada hati yang kemudian bertanya. Ia ingin jelas, namun takut untuk tegas. Hati itu menjadi boomerang ketika kisahnya mulai tertulis dalam jiwa yang sedang mencari.
Dunia hanyalah persinggahan, mungkinkah kan terkenang di alam yang kekal? Kitapun kembali bertanya, dan kemudian bertanya lagi, akhirnya hidup pun menjadi mistery. Kapan, bagaimana, kenapa, siapa dan untuk apa. Apa sih yang dipertanyakan? Kemarin engkau mengatakan iya, mengapa esok kan kau ubah, adakah jiwa yang sedang tergoda. Kenapa bisa sakit, pilu dan mengapa harus resah, padahal pedih itu ada diantara cintamu. Awalnya suka kemudian duka, mengapa cinta harus bersama luka. Awalnya tak sadar, "mengapa harus begini?" pertanyaan pertama terlontar pada mulut yang sedang bimbang karena ada hati yang meragu.
Kawan….kata-katamu yang kuucap sepanjang awal goresanku ini, selalu terngiang dan tanpa kusadar itu berkali-kali terucap. Adakah ini salahku? Karena aku yang tak tersadar akan hidup ini, aku akui bahwa kesenangan dan kemauan diri yang hanya ku ikuti, tanpa pernah aku berpikir bahwa ada hati yang sedang berontak karena ada yang tak adil. Seandainya waktu dapat kembali untuk perbaiki yang lalu, mungkin sesalku tidak sesesal saat ini.
Kawan, ketahuilah bahwa aku tak pernah berniat untuk jauh dari dirimu, mungkin jika kau mendengar, kau seakan muak karena aku yang baru tersadarkan. Mungkin cintamu yang pernah kau ungkapkan dulu, baru saat ini mengenai anuragaku, jiwa dan perasaanku terketuk setelah sekian lama kasih sayang dan cintamu yang bertepuk sebelah tangan mengusik diriku. Mungkinkah rasa dan asa itu masih ada untukku. Jujur kukatakan, bahwa kuakui saat engkau datang padaku, lucu yang kurasa, mengapa ada hati yang menyukai dan mencintai. Engkaupun tak pernah menganggap aku tak perasaan, tapi sebelum engkau pergi kau hanya berucap bahwa " mungkin belum saatnya cintaku terjawab " akupun terdiam dan bertanya " apakah itu cinta?"
Jelaslah kini penyesalanku akan arti dari ucapanmu itu. Kawan masih sudihkah diri ini engkau maafkan karena khilafku, jujur kukatakan bahwa kenangan dan cerita-ceritamu walau dulu aku muak mendengarnya, namun kini terkenang jelas dalam ingatanku, ada kehilangan yang kurasa setelah kutimang-timang cerita kita. Kawan, ada penantian dari diri yang malang ini Adakah hati yang telah pergi akan kembali untuk menyinggahi alam bawah sadarku lagi. Aku kesepian, gumam deritaku pada hati yang baru sadar, namun untuk apa semuanya itu bila hari ini engkau telah pergi. Bila engkau menyarankan untuk mencari yang lain, mungkin akan ada diri yang mengamuk.
Kawan aku ingin berteriak dan memakimu, karena engkau menitip kesan dan kenangan manis yang terpatri dalam ingatanku. Akankah diri yang malang ini adalah korban dari perasaanmu yang tak terjawab? Engkau pernah menyebut Karma, inikah yang pernah kau sebut itu? Bisakah engkau mengembalikannya kawan?
aafkan aku, aku terlambat menyadarinya dan kini, aku benar-benar mengimpikanmu untuk hadir disisiku, aku benar-benar tertakluk dalam dunia kenangan yang kau bangun. Aku tidak ingin ini menjadi boomerang bagi diriku. Kawan dimanakah engkau kini? Jika memang hatimu telah terbagi, masih adakah ruang hatimu untukku kutempatkan penyesalanku dalam maaf yang tak terhingga?
Kawan untuk kesekian kalinya aku berteriak hingga paruh nafasku, bahwa aku takakan lelah mencarimu karena cintaku yang hilang, kubagi derita dengan kenangan bersamamu, kuayunkan kata untuk kau dengar bahwa aku sedang mencintaimu. Biarlah kini cintaku yang bertepuk sebelah tangan, asal ada ruang untuk kuteduh dibalik sanubari senyummu. Karenamu aku terketuk hingga karenamu pula aku takluk. Jika engkau masih sudi mendengar goresanku ini, kabarkan pada esok bila ada yang bisa engkau jawab.